Perhatikanlah bahwa apapunyang Anda lakukan sebagai pribadi dan pemegang peran di bisnis dan organisasi, adalah upaya untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.
Semua pribadi yang berhasil adalah pribadi yang mudah disetujui; baik melalui kemampuan yang diwarisinya sejak kelahiran atau melalui kemampuan yang dikembangkannya melalui pemikiran dan latihan yang baik. Memang perubahan tidak menjamin adanya perbaikan, tetapi tidak ada perbaikan yang bisa dicapai tanpa perubahan. Hanya saja, kebanyakan orang merasa lebih khawatir dengan ancaman dari ketidak-pastian dari perubahan – daripada bersemangat menyambut kemungkinan baik yang bisa dihasilkannya.
Pada dasarnya, setiap orang menyukai kemapanan dari yang telah nyaman bagi mereka. Itu sebabnya, tidak banyak orang yang berbakat mendengarkan dengan baik, dan sebagian besar orang bahkan menolak untuk mendengarkan - karena mereka khawatir bila yang mereka dengar akan mengharuskan mereka untuk berubah.
Kata-kata Anda bisa melukiskan kebesaran dan keindahan dari rencana perubahan yang hanya bisa dilihat oleh pikiran.
Bila Anda bisa membantu orang lain melihatnya di dalam pikiran mereka, mereka akan juga mendengar kebesaran dan keindahan itu di hati mereka, dan bila mereka mendengarnya di hati, mereka akan menjadikan hati Anda sebagai hati mereka. Mereka akan meyakini yang Anda yakini sehingga rencana perubahan bisa diterima dan didukung secara luas. - MTSC
Purchase - Purchaser - Purchasing Apakah Bagian Pengadaan atau Purchasing Department masih anda anggap sebagai pembelanja? Saatnya anda menemukan jawabannya, Purchasing adalah PENGHEMAT keuangan perusahaan. Dalam blog ini kita bisa sharing untuk lebih memahami dan mengerti tentang Job Desc dan Job Role sehingga memberi bekal kita semua sebelum terjun kedalam pekerjaan ini, dimana PURCHASER mempunyai kesempatan untuk menjadi faktor keuntungan perusahaan.
Minggu, 31 Januari 2010
Sabtu, 30 Januari 2010
Business forecasting 2009-2028
Baru saja saya mendapatkan sebuah artikel, isinya adalah perkiraan industri pesawat udara 20 tahun kedepan.Bagaimana bisa forecasting ini dilakukan? Jawabnya adalah karena beberapa orang didunia ini ingin meletakkan trend masa depan. Forecasting bukanlah semata mata menyimpulkan statistik masa lalu, namun justru mendekatkan kejadian tahun tahun didepan dengan data data sebelumnya. Dapat kita bayangkan betapa besar ketidakpastiannya.
Berdasarkan forecasting 20 tahunan industri pesawat terbang, maka semua bisnis mengarah pada satu titik. Contohnya; hampir semua pemain utama airliner didunia sudah mempersiapkan mega strategi, dikatakan bahwa masa depan pesawat besarlah yang akan laris (350-550 penumpang), maka mereka berlomba mempersiapkan airport yang lebih besar...mulai dari sekarang. Kemudian diprediksi bahwa akan muncul setidaknya 82 mega city didunia (sekarang baru ada 20an) yang dihuni para konglomerat dunia, maka kebutuhan pesawat yang mewahpun dipersiapkan dari sekarang, dengan interior yang sesuai kehendak pemakainya.
Indonesia masih berpikir per 4tahunan, negara negara lain sudah memikirkan 20 tahun didepan.
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
Jumat, 29 Januari 2010
The myth of Steve Job
Jobs burst on the scene in the late 1970s as the boy leader who became the evangelist of the personal computer revolution. In 1984, he led the team at Apple that brought the graphical user interface to the masses with the Macintosh.
Then, just as quickly as he had burst upon the business world, his world imploded. In a failed struggle for power and control at Apple, he got kicked out of his own company in 1985 and went into exile. He was a rich has-been by the age of 30. Over the following decade, his next two companies — NeXT Computer (which he founded) and Pixar Animation (which he bought from George Lucas) - quietly made some important breakthroughs in computing but struggled financially and started bleeding away the $100 million fortune that Jobs had made at Apple.
Jobs launched a coup to reclaim his white knight status in the mid-1990s. His first bit of redemption came with Pixar in 1995 when Toy Story became the highest grossing animated feature of all time and Pixar rode that acclaim to a very successful IPO, orchestrated by Jobs himself. Once the IPO launched, it instantly turned Jobs into a billionaire.
His next bit of redemption was even sweeter. At the end of 1996, a badly-struggling Apple decided to purchase NeXT to help reinvent itself as a technology innovator. Jobs initially joined Apple as an advisor as part of the NeXT deal, but he quickly convinced the Apple board to get rid of its leader, Gil Amelio. As a result, Jobs was thrust into the role of “interim CEO” and company savior.
What happened next was a series of conquests that far exceeded anyone’s expectations and returned Apple to the role of technology superpower. These conquests also anointed Steve Jobs with the reputation of being a mix between warrior and magician.
Then, just as quickly as he had burst upon the business world, his world imploded. In a failed struggle for power and control at Apple, he got kicked out of his own company in 1985 and went into exile. He was a rich has-been by the age of 30. Over the following decade, his next two companies — NeXT Computer (which he founded) and Pixar Animation (which he bought from George Lucas) - quietly made some important breakthroughs in computing but struggled financially and started bleeding away the $100 million fortune that Jobs had made at Apple.
Jobs launched a coup to reclaim his white knight status in the mid-1990s. His first bit of redemption came with Pixar in 1995 when Toy Story became the highest grossing animated feature of all time and Pixar rode that acclaim to a very successful IPO, orchestrated by Jobs himself. Once the IPO launched, it instantly turned Jobs into a billionaire.
His next bit of redemption was even sweeter. At the end of 1996, a badly-struggling Apple decided to purchase NeXT to help reinvent itself as a technology innovator. Jobs initially joined Apple as an advisor as part of the NeXT deal, but he quickly convinced the Apple board to get rid of its leader, Gil Amelio. As a result, Jobs was thrust into the role of “interim CEO” and company savior.
What happened next was a series of conquests that far exceeded anyone’s expectations and returned Apple to the role of technology superpower. These conquests also anointed Steve Jobs with the reputation of being a mix between warrior and magician.
Laporan Cost Saving Tahunan
Membuat laporan cost saving akan mudah bila anda belanja dengan jumlah yang sama tetapi anda berhasil menegosiasi harga sehingga lebih murah. Maka anda tinggal melaporkan nilai pembelian tahun lalu dikurangi dengan nilai pembelian tahun ini, yang sama dengan cost saving anda.
Namun akan sedikit lebih pelik bila jumlah yang anda beli berbeda dengan tahun sebelumnya. Misal untuk sebuah spare part mesin, tahun lalu anda membeli sejumlah 100 unit dengan harga 50 ribu/unit, namun tahun ini anda membeli sejumlah 150 unit dengan harga 45 ribu/unit. Anda akan mendapatkan nilai belanja yang naik dari tahun sebelumnya sehingga sepertinya bukan cost saving. Jadi yang anda harus laporkan adalah cost saving sebesar 5 ribu/unit.
Dan akan lebih pelik lagi bila jenis barang atau jasa yang anda beli selalu berubah ubah menurut kondisi pasar. Contoh adalah industri penerbangan, serivce atau barang yang ada selalu berubah menurut harga minyak dunia misalnya, harga tiket yang lebih murah bila dibeli penumpang lebih awal, jarak tempuh yang bisa berbeda beda dengan tujuan yang sama, dan contoh lainnya.
Bagaimana menghitung cost saving anda di bidang pembelian tiket perjalanan udara kantor anda? Tidak ada cara seperti diatas yang sesuai. Jawabnya adalah menggunakan "cost saving ratio" demikian kata Roland Berger Strategy Consultant. Jadi anda harus membuat perbandingan per pegawai yang melakukan perjalanan udara tersebut. Akan sangat bagus bila anda mendapatkan biaya perjalanan tahun lalu adalah 5 juta per/orang dan di tahun ini berkat usaha anda menjadi 3,75 juta/orang. Jadi bukan harga tiket per kota tujuan, atau bahkan per harga hotel hotel yang disinggahi.
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
Kamis, 28 Januari 2010
Be strong, never weaken your self
Kekuatan pribadi anda hanya sebagian kecil downpayment dari bantuan kekuatan yang besar untuk diri anda.
Untuk itu be strong! selebihnya adalah Alam yg akan melengkapi.
Beranikan diri anda, masukkan diri anda kedalam urusan urusan perbaikan yang besar, selebihnya tunggu kekuatan lain yang akan bergabung dgn kekuatan diri anda.
Bagaimana untuk menjadi pribadi yang kuat?
1. Kritikan adalah seperti dilempar sebongkah batu bata, jangan hindari tapi tangkap dan kumpulkan, nanti lama lama akan cukup untuk membangun rumah.
2. Manage your reaction, masalah bisa datang, besar dan kecil, tetapi orang besar tetap tenang, santun, dan anggun.
3. Jangan bereaksi terhadap urusan kecil, ejekan, cemoohan, direndahkan, ah...lepaskan saja.
4. Jangan rendahkan orang lain untuk membesarkan diri, tapi beranikan diri untuk masuk kepada orang orang besar, krn orang besar tdk akan mudah merendahkan orang.
Semakin tinggi anda mendaki semakin sedikit yang kita bawa.
Orang orang besar adalah orang2 yg selalu berusaha membesarkan orang lain - Mario Teguh
Tosan S
Selasa, 26 Januari 2010
Chin Up! Keep Going..
"Press on. Nothing in the world can take the place of persistence." --Ray Kroc
"Am I even a little closer today to my goal than yesterday?"
For those of you who don't know Ray Kroc, he's the guy who took McDonald's from a little hamburger stand to the most successful restaurant chain in the world. He's long passed away and the systems that he set up still thrive and dominate today.
He developed and improved on systems of training, making the food, presentation, franchising, and advertising that made a moderately successful joint into a global phenomenon. Systems and persistence.
Many people thought he was a crazed lunatic, concerning his fanaticism about consistency. But Ray understood that once a system, good or bad, is in place, it's nearly impossible to change it. And that's how we all are as individuals, too. Once we get a habit, it becomes very hard to break... Giving up too soon is the saddest thing in the world.
My wife told me a story the other day about a co-worker who has never hit the 'Help' button in any software program she's ever used...and she's used computers every day for years. She thinks it will take too long to find the answer, so she just doesn't even bother.
Don't laugh--you probably have a few of these yourself. Find them and snuff them out.
Do you look at potential goals and get overwhelmed by all the stuff you'd have to do to achieve it and thus never start anything? The right way is to write down all the benefits that you'll get--spiritually, physically, emotionally, socially... any benefit. Look far into the future. Write 'em down. This simple exercise will help you stay motivated to see it through.
If it takes months or even years to get what you want, keeping your eye on the ball will keep you going. If you don't even know why you're doing something, how can you possibly stay passionate about it? You can't. Have you given up on a goal recently, where if you attained it, your life would be dramatically improved? Were you passionate about the goal?
Of course you weren't.
Passionate desire helps create persistence. Persistence alone will often get you where you want to go. Without it, it doesn't matter how much you know, who you know, who you are, what you've done before, what you look like or how much money you have to throw at a problem.
Persistence, sheer persistence usually will win. Determination will overcome even superior talent.
"Am I even a little closer today to my goal than yesterday?"
For those of you who don't know Ray Kroc, he's the guy who took McDonald's from a little hamburger stand to the most successful restaurant chain in the world. He's long passed away and the systems that he set up still thrive and dominate today.
He developed and improved on systems of training, making the food, presentation, franchising, and advertising that made a moderately successful joint into a global phenomenon. Systems and persistence.
Many people thought he was a crazed lunatic, concerning his fanaticism about consistency. But Ray understood that once a system, good or bad, is in place, it's nearly impossible to change it. And that's how we all are as individuals, too. Once we get a habit, it becomes very hard to break... Giving up too soon is the saddest thing in the world.
My wife told me a story the other day about a co-worker who has never hit the 'Help' button in any software program she's ever used...and she's used computers every day for years. She thinks it will take too long to find the answer, so she just doesn't even bother.
Don't laugh--you probably have a few of these yourself. Find them and snuff them out.
Do you look at potential goals and get overwhelmed by all the stuff you'd have to do to achieve it and thus never start anything? The right way is to write down all the benefits that you'll get--spiritually, physically, emotionally, socially... any benefit. Look far into the future. Write 'em down. This simple exercise will help you stay motivated to see it through.
If it takes months or even years to get what you want, keeping your eye on the ball will keep you going. If you don't even know why you're doing something, how can you possibly stay passionate about it? You can't. Have you given up on a goal recently, where if you attained it, your life would be dramatically improved? Were you passionate about the goal?
Of course you weren't.
Passionate desire helps create persistence. Persistence alone will often get you where you want to go. Without it, it doesn't matter how much you know, who you know, who you are, what you've done before, what you look like or how much money you have to throw at a problem.
Persistence, sheer persistence usually will win. Determination will overcome even superior talent.
Senin, 25 Januari 2010
Jiwa yang siap memimpin
Pengalaman saya saat mengikuti pelatihan "Get the feeling of how team work is" dengan salah satu trainer outbond management sering kali mengingatkan saya untuk senantiasa menyiapkan diri sebagai pemimpin. Kenapa harus saya lakukan itu? Menyiapkan diri selalu menjadi pemimpin?
Pada kehidupan nyata dimana kita menghadapi hal hal yang tidak bisa kita kontrol baik karena faktor dalam diri maupun faktor di luar diri kita, saya yakin bahwa hanya leadershiplah yang mampu menyelamatkan kita. Tetapi saya juga sangat sadar bahwa tidak setiap jam atau menit diri saya adalah diri seorang leader. Banyak kejadian kejadian yang membuktikan hal ini, dari reaksi menghadapi kecurangan dalam bisnis, menghadapi rekan kerja yang lebih cepat dari saya maupun yang lebih lambat, masalah keengganan saya mengambil tanggung jawab sebuah masalah, mencari kambing hitam terhadap kegagalan, menyalahkan sistem, dan lain lain.
Misalkan anda menghadapi sebuah keadaan genting dalam pekerjaan dan harus bisa menyelesaikannya bersama sama anak buah anda, apakah yang pertama tama anda lakukan? Terus terang saya seringkali malah meneruskannya begitu saja ke anak buah dengan pesan singkat "urus ini itu sampai selesai, sore ini !" Apakah selesai kegentingan tersebut ? Tentu tidak.
Nha, berbekal outbond training itulah saya mendapatkan sebuah warning atau peringatan akan pentingnya memiliki jiwa yang siap meminpin setiap saat, sehingga kita tidak lupa akan hal hal dibawah ini:
1. Leader harus bisa menterjemahkan masalah kepada anak buahnya dengan baik, sehingga tidak bias dengan apa yang harus di hasilkan.
2. Leader harus bisa merumuskan urutan aktifitas yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.
3. Leader harus bisa merumuskan prioritas urutan aktifitas tersebut berdasarkan berat ringannya.
4. Leader harus bisa memberikan penugasan kepada orang yang tepat, dengan waktu yang jelas, dan rumusan hasil yang jelas.
5. Leader senantiasa mengikuti proses atau aktifitas dari semua tim nya dan mengevaluasi ke efektifan dan keefisienannya, kemudian mengambil langkah koreksi jika diperlukan.
6. Leader senantiasa memberikan semangat kepada dirinya sendiri dan kepada setiap anggota timnya.
7. Leader akan memberikan apresiasi kepada keberhasilan dan lapang dada terhadap kegagalan.
Salam sukses !
Pada kehidupan nyata dimana kita menghadapi hal hal yang tidak bisa kita kontrol baik karena faktor dalam diri maupun faktor di luar diri kita, saya yakin bahwa hanya leadershiplah yang mampu menyelamatkan kita. Tetapi saya juga sangat sadar bahwa tidak setiap jam atau menit diri saya adalah diri seorang leader. Banyak kejadian kejadian yang membuktikan hal ini, dari reaksi menghadapi kecurangan dalam bisnis, menghadapi rekan kerja yang lebih cepat dari saya maupun yang lebih lambat, masalah keengganan saya mengambil tanggung jawab sebuah masalah, mencari kambing hitam terhadap kegagalan, menyalahkan sistem, dan lain lain.
Misalkan anda menghadapi sebuah keadaan genting dalam pekerjaan dan harus bisa menyelesaikannya bersama sama anak buah anda, apakah yang pertama tama anda lakukan? Terus terang saya seringkali malah meneruskannya begitu saja ke anak buah dengan pesan singkat "urus ini itu sampai selesai, sore ini !" Apakah selesai kegentingan tersebut ? Tentu tidak.
Nha, berbekal outbond training itulah saya mendapatkan sebuah warning atau peringatan akan pentingnya memiliki jiwa yang siap meminpin setiap saat, sehingga kita tidak lupa akan hal hal dibawah ini:
1. Leader harus bisa menterjemahkan masalah kepada anak buahnya dengan baik, sehingga tidak bias dengan apa yang harus di hasilkan.
2. Leader harus bisa merumuskan urutan aktifitas yang sesuai dengan masalah yang dihadapi.
3. Leader harus bisa merumuskan prioritas urutan aktifitas tersebut berdasarkan berat ringannya.
4. Leader harus bisa memberikan penugasan kepada orang yang tepat, dengan waktu yang jelas, dan rumusan hasil yang jelas.
5. Leader senantiasa mengikuti proses atau aktifitas dari semua tim nya dan mengevaluasi ke efektifan dan keefisienannya, kemudian mengambil langkah koreksi jika diperlukan.
6. Leader senantiasa memberikan semangat kepada dirinya sendiri dan kepada setiap anggota timnya.
7. Leader akan memberikan apresiasi kepada keberhasilan dan lapang dada terhadap kegagalan.
Salam sukses !
Jumat, 22 Januari 2010
Negotiation Planning
Setidaknya ada 3 dimensi dalam perencanaan bernegosiasi, yaitu:
1. Strategic planning, menajamkan sasaran sasaran jangka panjang dari kedua pihak.
2. Administrative planning, memastikan orang dan informasi, yang akan berkaitan dengan kelancaran negosiasi.
3. Tactical planning, memastikan mendapatkan hasil optimal setelah negosiasi digelar.
Yang paling krusial adalah strategic planning, ada 4 aspek dasar:
1) product - market goal,
2) fact finding,
3) worth analysis,
4) decision making.
Ada masalah yang sering muncul adalah karena kurang mampu memprediksi kondisi pasar dan trend produk kedepannya. Baik supplier maupun purchaser akan kesulitan menemukan hasil negosiasi yang optimal jika tidak ada prediksi yang bisa dipertanggungjawabkan. Purchaser selalu berpikir make or buy, harga total, kualitas yang tepat, persaingan kedepan, dan trend pasang surutnya produk.
Jadi strategic planning dalam bernegosiasi harus dipersiapkan secara specific, dan akurasi yang tinggi.
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com/
1. Strategic planning, menajamkan sasaran sasaran jangka panjang dari kedua pihak.
2. Administrative planning, memastikan orang dan informasi, yang akan berkaitan dengan kelancaran negosiasi.
3. Tactical planning, memastikan mendapatkan hasil optimal setelah negosiasi digelar.
Yang paling krusial adalah strategic planning, ada 4 aspek dasar:
1) product - market goal,
2) fact finding,
3) worth analysis,
4) decision making.
Ada masalah yang sering muncul adalah karena kurang mampu memprediksi kondisi pasar dan trend produk kedepannya. Baik supplier maupun purchaser akan kesulitan menemukan hasil negosiasi yang optimal jika tidak ada prediksi yang bisa dipertanggungjawabkan. Purchaser selalu berpikir make or buy, harga total, kualitas yang tepat, persaingan kedepan, dan trend pasang surutnya produk.
Jadi strategic planning dalam bernegosiasi harus dipersiapkan secara specific, dan akurasi yang tinggi.
http://thepurchaser.blogspot.com/
Kamis, 21 Januari 2010
SECRET OF SUCCESS
A goal sometimes seems so far off and our progress often appears to be so painfully slow that we have a tendency to lose heart. It sometimes seems we'll never make the grade. We come close to giving up — falling back into old habits which, while they may be comfortable, lead to nowhere. Well, there's a way to overcome this inevitable barrier to success, and here is the secret: Every great achievement is nothing more than the collection of smaller achievements done to perfection. Even the "impossible" has been accomplished through the relentless pursuit of success, one day at a time.
Have you ever seen a bricklayer starting a new building by putting the first brick in place? You are struck by the size of the job he has ahead of him. But one day, almost before you realize it, he's finished. All the thousands of bricks are in place, each one vital to the finished structure, each one sharing its portion of the load. How did he do it? Simple; one brick at a time. And so is the pursuit of success and greatness.
A lifetime is composed of days, strung together into weeks, months, and years. A successful life is nothing more than a lot of successful days put together. As such, every day counts.
Just as a stone mason can put only one stone in place at a time, you can live only one day at a time. And it's the way in which these stones are placed that will determine the beauty, the strength of the tower. If each stone is successfully placed — with care and quality — the tower will be a success. If, on the other hand, they're put down in a hit-or-miss fashion — irrespective of quality — the whole tower is in danger. Seems simple. Yet, how many people do you know who live like this — focused on "just getting through" each day instead of on the "success" of each day. Which are you focused on?
Have you ever seen a bricklayer starting a new building by putting the first brick in place? You are struck by the size of the job he has ahead of him. But one day, almost before you realize it, he's finished. All the thousands of bricks are in place, each one vital to the finished structure, each one sharing its portion of the load. How did he do it? Simple; one brick at a time. And so is the pursuit of success and greatness.
A lifetime is composed of days, strung together into weeks, months, and years. A successful life is nothing more than a lot of successful days put together. As such, every day counts.
Just as a stone mason can put only one stone in place at a time, you can live only one day at a time. And it's the way in which these stones are placed that will determine the beauty, the strength of the tower. If each stone is successfully placed — with care and quality — the tower will be a success. If, on the other hand, they're put down in a hit-or-miss fashion — irrespective of quality — the whole tower is in danger. Seems simple. Yet, how many people do you know who live like this — focused on "just getting through" each day instead of on the "success" of each day. Which are you focused on?
Pemilihan kata yang efektif
Beberapa peserta training bertanya tentang pemilihan kata dalam komunikasi dengan supplier.
"Kami biasa menggunakan kata 'terbaik' atau 'lebih baik' dalam meminta penurunan harga, adakah kata yang lebih efektif ?"
Contoh yang sering digunakan "Harga anda masih tinggi, kami masih bisa menunggu anda untuk memberikan harga 'terbaik' anda". Kalimat ini tidak efektif karena harga terbaik supplier adalah harga tertinggi mereka. Sedangkan maksud anda adalah harga terendah mereka. Kalau anda minta harga 'lebih baik' maka anda membingungkan supplier.
Untuk itu, pilih kalimat yang efektif jika berhubungan dengan suppIier. Gunakan kata 'paling rendah' atau 'lebih rendah' secara jelas.
"Kami sangat mengharapkan anda bisa memberikan harga terendah sehingga akan lebih besar kemungkinan menang" ini adalah kata yang lugas dan tegas. Efektif karena anda menunjukkan kontrol anda terhadap supplier peserta tender.
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
"Kami biasa menggunakan kata 'terbaik' atau 'lebih baik' dalam meminta penurunan harga, adakah kata yang lebih efektif ?"
Contoh yang sering digunakan "Harga anda masih tinggi, kami masih bisa menunggu anda untuk memberikan harga 'terbaik' anda". Kalimat ini tidak efektif karena harga terbaik supplier adalah harga tertinggi mereka. Sedangkan maksud anda adalah harga terendah mereka. Kalau anda minta harga 'lebih baik' maka anda membingungkan supplier.
Untuk itu, pilih kalimat yang efektif jika berhubungan dengan suppIier. Gunakan kata 'paling rendah' atau 'lebih rendah' secara jelas.
"Kami sangat mengharapkan anda bisa memberikan harga terendah sehingga akan lebih besar kemungkinan menang" ini adalah kata yang lugas dan tegas. Efektif karena anda menunjukkan kontrol anda terhadap supplier peserta tender.
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)