Rabu, 24 Februari 2010

Salah membeli karena kesalahan sendiri, bagaimana mengoreksinya ?

Lazimkah pembelian dibatalkan karena kesalahan konsumen sendiri?
Seorang sales mendapat pesanan sebuah mobil dari klien baru. Dengan semangat dia mendapat pandangan sebuah mobil produksi 3 tahun silam dengan kemudahan pembayaran dari sebuah showroom kecil di pinggiran kota. Tanpa sadar dia telah melakukan kesalahan dengan memberikan tanda jadi kepada show room tersebut tanpa test drive sendiri. Pada hari pembayaran dan serah terima mobil, betapa kagetnya beliau dengan kondisi mobil tersebut. Sangat jauh antara body dengan kenyamanan, mobil itu sangat tidak enak. Dan begitu di test drive oleh keluarga klien, yang terjadi adalah kemarahan dan kecewa. Klien itu menuntut pengembalikan uangnya, karena kecewa yang besar. Opsi mengganti mobil tidak disetujui.

Sales memutar otak bagaimana cara menghubungi showroom untuk memecahkan masalah tersebut. Jelas pada saat dia menghubungi showroom dan berbicara tentang pengembalian mobil yang didapat adalah kemarahan karena dianggap melecehkan. Namun dia tidak putus asa. Tetap dia mendatangi showroom dengan membawa mobil 'buruk' tersebut lengkap dengan semua dokumen mobil. Setelah 1 jam menanti, akhirnya datanglah sipemilik showroom dengan wajah masam.
'Salamat siang pak, saya senang karena dari pagi tadi showroom ini didatangi banyak pengunjung' salam pembuka untuk mencairkan suasana.
'Terimakasih pak, inilah kondisinya, walaupun banyak pengunjung belum tentu jadi beli. Makanya begitu berharganya uang yang sudah masuk kepada kami' sindirnya.

Percakapan terus berjalan dan intinya showroom keberatan dengan permintaan ganti mobil lain karena itu penghinaan menurut mereka. Jadi sales kita ini bukan berhadapan dengan pribadi yang ramah. Segala tawaran dibicarakan sampai akhirnya dengan mengalah sales menyetujui 'Begini saja, tolong jualkan lagi mobil ini, dan kembalikan uang saya jika sudah laku'.
Showroom bilang 'Saya hargai tawaran anda, namun ini sifatnya adalah transaksi menitipkan mobil untuk kami jual di showroom ini, jadi hasilnya bagus atau tidak itu tergantung pasar'.
'Baiklah kalau begitu, saya titipkan mobil ini kepada anda untuk dijual dengan harga yang sama, harga seperti saya membeli dari anda kemarin'.
'Kembali lagi saya katakan, saya tidak bisa menjamin, tapi tenanglah, saya akan berusaha semampu saya untuk menjual dengan harga yang bagus sesuai harapan bapak, saya juga akan mendapat komisi dari transaksi ini khan..' kata pemilik showroom dengan lebih ramah akhirnya.

Kesalahan kita sudah terjadi, itu masa lalu, yang jelas klien kita membutuhkan service terbaik kita sebagai purchaser, dan supplier kita membutuhkan kerja sama yang etis dengan kita. Coba anda hitung seberapa sering anda salah mengadakan sebuah produk bagi perusahaan anda atau klien anda.

Sales kita diatas berani datang ke showroom dengan niat pasti, membatalkan pembelian mobil dan pengembalian uang secara utuh.
Ulasan yang bisa kita garis bawahi adalah:
1. Beliau tidak goyah sedikitpun, sangat teguh, dan tegas setia pada tujuan akhir.
2. Beliau luwes dalam mengajukan penawaran, luwes dalam taktik adalah kebutuhan, namun harus tegas pada tujuan akhir.
3. Sales kita ini berhasil mendapatkan rasa hormat dari showroom, dan berhasil mendapatkan solusi yang cukup optimal.
4. Sales kita ini tidak takut kemarahan orang kepadanya demi tujuan akhir. Itulah yang disebut keberanian sejati.

Pengalaman dari seseorang beberapa tahun yang lalu...
 
Tosan S
http://thepurchaser.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar